Disuatu sore yang cerah dengan camilan pisang goreng dan teh hangat sang Ibu Pertiwi duduk dengan santainya sambil menonton televisi yang saat itu sedang menyiarkan berita sore. Dan dalam berita sore itu fokus utama adalah tentang masalah pemberian bail-out kepada sebuah bank swasta.
Dia melihat bagaimana anak-anaknya saling mencaci dan saling mencari kesalahan saudara mereka sendiri. Tanpa terasa meneteslah air matanya, dengan hati yang pedih diapun menggumam dalam hatinya “Oh, Tuhan mengapa anak-anakku seperti orang yang tidak pernah diajarkan tentang kesopanan, mereka tidak malu mencaci saudara mereka dengan mengatasnamakan saudara-saudaranya yang lain atau pun keadilan padahal dia sendiri sebenarnya belumlah pasti orang yang adil dan menjunjung amanah saudara-saudaranya”.
Tidakkah mereka itu melihat bahwa dengan mencaci saudara mereka sendiri berarti mereka juga menjelekkan diri mereka sendiri karena mereka adalah bagian dari rumah ini. Dan ketika salah satu anaknya yang sudah tampil dengan cacian-caciannya di televisi pulang kerumah, maka sang Ibu Pertiwi pun memanggilnya “Anakku Ibumu yang tua ini tadi melihatmu tampil di televisi dan mendengar semua kata-katamu yang "bagus" untuk telingamu tapi tidak bagus untuk telinga saudaramu yang lain !!”.
“Anakku, apakah yang kamu ucapkan tadi adalah hasil dari pendidikan di sekolahmu selama ini tidakkah kamu tahu bahwa jika kau mencaci saudaramu yang lain itu sama saja seperti kamu mencaci diri kamu sendiri ??” tanya Sang Ibu Pertiwi kepada anaknya. Sang anak pun hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab apa yang dikatakan oleh Sang Ibunya. “Anakku, selama ini aku telah mengajarkan padamu agama dengan baik tapi mengapa kata-kata yang “bagus” itu keluar dari mulutmu, ketahuilah bahwa saudaramu yang saat ini sedang bertugas sebagai pejabat di rumah ini telah berusaha sebaik mungkin sesuai aturan yang telah kita sepakati bersama, memang saat ini kamu bukanlah seorang pejabat jadi kamu bdengan mudahnya mengeluarkan kata-kata itu dengan lancar tetapi jika kamu pada posisi saudaramu itu belum tentu kamu dapat mengambil keputusan sebaik dan seadil yang telah saudaramu itu lakukan !!”
Anakku, ingatlah nasehat Ibu mu yang sudah renta ini :
- Jangan pernah kamu berlindung mengatasnamakan saudaramu yang lain padahal sebenarnya itu adalah ambisi pribadimu atau kelompokmu saja karena jika itu kamu lakukan, maka suatu saat kamu pun akan mengalami hal sama seperti yang telah kamu lakukan itu.
- Janganlah berbicara tentang keadilan padahal kamu sendiri tidak bisa bersikap adil pada diri kamu sendiri ataupun keluargamu.
- Jangan pernah mencaci seseorang siapapun dia karena suatu saat nanti kamu akan merasakan cacian yang sama seperti cacian yang kamu pernah ucapkan.
- Jangan pernah kamu mencari-cari kesalahan saudaramu karena jika yang kamu tuduhkan itu tidak benar, maka hal itu sudah berarti fitnah dan kamu tahu bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Jadi kamupun tahu hukuman apakah yang pantas bagi orang yang telah melakukan fitnah itu.
- Ingatlah bahwa setiap manusia tidaklah sempurna jadi kamu jangan pernah merasa bahwa dirimu adalah manusia yang sempurna yang tidak pernah melakukan kesalahan.
- Sebelum kamu mencaci ataupun menjelek-jelekkan saudaramu ingatlah bahwa saat jari telunjukmu menunjuk kearah saudaramu itu, maka empat jari yang lain juga menunjuk kearahmu jadi jika satu cacian kamu tujukan ke saudaramu, maka empat cacian yang sama kamu arahkan pada dirimu sendiri.
Anakku, sebelum engkau tidur ingat-ingatlah apa yang Ibumu telah nasehatkan kepadamu semoga saat engkau terbangun esok hari engkau bisa menjadi orang yang lebih bijaksana.
No comments:
Post a Comment