17 September 2009

IEDUL FITRI



Ketika adzan maghrib berkumandang hari ini, maka bergantilah bulan ini dari Ramadhan menjadi Syawal dan tetesan air mata jatuh dari pelupuk mata keatas pangkuan karena bulan yang penuh rahmat dan ampunan telah pergi.

Setelah kita beribadah puasa selama 1 bulan penuh, maka hari ini kita merasakan diri kita bak seorang bayi suci yang baru dilahirkan ke dunia ini. Tetesan air mata yang jatuh bukan karena kefitrian yang seorang muslim inginkan tetapi pergantian bulan inilah yang ditangisi karena tidak ada bulan yang penuh rahmat dan ampunan selain di bulan Ramadhan ini.

Tetapi saat ini saya melihat lebih banyak orang yang senang jika telah selesai bulan Ramadhan karena bagi mereka puasa merupakan siksaan yang luar biasa bagi mereka. Dan ketika Iedul Fitri tiba, maka mereka merayakannya dengan megah dan serba mewah. Bagi mereka hari ini harus dirayakan karena hari ini mereka telah bebas dari belenggu puasa selama 1 bulan penuh dan pantangan selama Ramadhan telah boleh dilaksanakan kembali. Disinilah perbedaan yang nyata antara siapa yang benar-benar merasakan dirinya seorang muslim atau hanya muslim sekedar sebagai identitas saja.

Semoga apa yang telah laksanakan selama bulan Ramadhan akan terus dilanjutkan di bulan-bulan seterusnya agar keimanan kita semakin baik dan menjadikan kita sebagai seorang muslim yang sejati.

12 September 2009

LAILATUL QADR

Ketika Ramadhan tiba selain mengharapkan limpahan berkah dari ALLAH, maka ada satu hari yang sangat diharapkan kedatanganya yaitu LAILATUL QADR. Lailatul Qadr ini begitu sangat ditunggu-tunggu oleh orang-orang muslim karena pada hari itu pahala yang dijanjikan oleh ALLAH SWT adalah seribu bulan.

Dan malam Lailatul Qadr ini tidak turun pada semua bulan tetapi hanya turun pada bulan Ramadhan saja dan itupun kita sebagai manusia tidak bisa menebak kapan dan pada hari ke berapa Ramadhan turunnya. Malam Lailatul Qadr adalah suatu malam yang sangat istimewa karena pada saat itu Al-Qur’an diturunkan ke muka bumi dan para malaikat pun ikut serta turun ke bumi ini sehingga alam pun menjadi hening penuh hormat.

Dalam hadist-hadist yang ada saat ini semuanya tidak ada yang bisa memastikan pada hari keberapa dari bulan Ramadhan tepat datangnya Lailatul Qadr itu tetapi dari semua hadist itu hanya bisa di dapatkan petunjuk bahwa Lailatul Qadr akan datang pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Rasullullah SAW pun hanya memberikan suatu petunjuk bahwa jika Lailatul Qadr turun pada malam itu, maka pada pagi harinya matahari akan bersinar keemasan tetapi tidak panas.

Mungkin timbul pertanyaan mengapa orang-orang muslim sangat mengharapkan datangnya malam Lailatul Qadr itu ?, hal ini karena seperti dituliskan diatas bahwa pahalanya adalah seribu bulan dan jika kita hitung secara matematis seribu bulan itu, maka kita bisa tahu bahwa seribu bulan sama dengan 83 tahun lamanya sedangkan usia kita mungkin tidak lebih dari 60 tahun saja tetapi ada beberapa ahli yang mengatakan seribu bulan itu hanyalah sebuah kata kiasan untuk mengartikan betapa banyaknya pahala pada malam Lailatul Qadr itu.

Banyak cara yang dilakukan untuk menyambut datangnya malam Lailatul Qadr itu yaitu Tadarus Al-Qur’an, Iqtikaf di Masjid, Zikir dan lain-lain. Ya, ALLAH mungkinkah umatmu yang hina ini bisa mendapatkan malam Lailatul Qadr yang sangat aku nantikan sebelum ajal menjemputku.

11 September 2009

BUDAYA MENJELANG LEBARAN

Ma, belikan baju baru untuk lebaran.
Pak, meja kita sudah kelihatan jelek, beli khan yang baru lah untuk lebaran malu sama tetangga-tetangga.
Apa kue kita tuk lebaran nih, kalau sampai tidak ada kue malu kita sama tetangga yang datang bertamu ke rumah kita.
Hari apa kamu pulang mudik ke kampung.


Apa yang ada diatas itu adalah sebagian kata-kata yang selalu terucap saat hari-hari puasa Ramadhan sudah mendekati akhir. Sepertinya hal ini menjadi suatu budaya di banyak daerah di Indonesia ini dan selalu berulang di setiap tahun. Dan yang tak kalah repot adalah pemerintah karena pemerintah harus bersusah payah untuk mengatur kegiatan “mudik” tahunan rakyatnya tersebut.  
 
Tetapi jika dipikir dengan jernih mungkin timbul beberapa pertanyaan dalam hati kita :
1. Apakah keuntungan yang bisa diambil dari budaya ini.
2. Siapakah yang lebih diuntungkan dengan semua budaya yang kita lakukan untuk menyambut Iedul Fitri tersebut.
3. Apakah budaya ini “harus” selalu dilaksanakan.
Kalau kita melihat semua pertanyaan itu, maka sebenarnya yang sangat diuntungkan dengan budaya itu adalah para pengusaha (penjual baik jasa atau barang) sedangkan kita hanyalah obyek penderita yang menghambur-hamburkan uangnya untuk menambah pundi-pundi uang mereka. Tiada keuntungan yang bisa kita dapatkan dari apa yang kita lakukan itu tapi hanyalah kebahagiaan sesaat ketika seseorang memuji baju baru yang kita kenakan atau sanjungan tetangga ketika mereka datang kerumah kita. 

Memang budaya ini sulit untuk dirubah tetapi alangkah lebih baiknya jika budaya ini di”renovasi” sehingga ada manfaat bagi kita dan bukan hanya orang lain yang mendapatkan keuntungan sedangkan kita hanya merugi.
 
Sedikit contoh adalah kita tidak membiasakan anak-anak kita membeli baju baru untuk lebaran apalagi jika baju anak kita masih banyak dan layak pakai semua karena beli baju khan bukan harus disaat lebaran saja. Atau kita tidak perlu beli bermacam-macam kue untuk lebaran tetapi cukup sekedarnya saja karena tetangga datang kerumah kita khan bukan untuk melihat kue kita tapi untuk silaturahmi (kalau tetangga itu datang untuk melihat kue kita ya itu sih namanya tetangga kurang ajar ha.. ha.. ha.. ha..).
 
Alangkah lebih baik dan indahnya jika budaya menjelang lebaran itu tidak membuat kita repot baik finansial maupun non finansial sehingga kita bisa lebih berkonsentrasi untuk melaksanakan puasa Ramadhan yang penuh dengan berkah ini. 

08 September 2009

SANG BUAH HATI

Setiap keluarga pastilah akan selalu berusaha untuk mendapatkan kehadiran seorang anak untuk menghangatkan suasana suatu keluarga. Jadi kehadiran seorang bayi kecil dalam sebuah keluarga memang sangatlah ditunggu-tunggu baik oleh si bapak atau si ibu.
 
Tetapi terkadang ALLAH memang mempunyai rencana yang lain sehingga sang buah hati itu tidak muncul-muncul ke dunia ini dan mungkin hal ini akan kita anggap sebagai sebuah ketidak adilan dari ALLAH. Ketika bisikan-bisikan tentang ketidak adilan itu selalu menghinggapi pikiran kita, maka yang ada dalam hati kita adalah kebencian terhadap ALLAH padahal jika kita melihat lebih jauh kedalam hati nurani kita bagaimana murah hatinya ALLAH mungkin kebencian itu akan sirna dan kita akan melihat kebenaran rencana ALLAH itu.
 
Ketika melihat berita-berita baik di media cetak ataupun televisi rasa geram kita mungkin akan muncul saat kita melihat seseorang dengan mudahnya membuang bayi yang telah dilahirkannya. Dalam hati terkadang muncul kata-kata “mengapa bayi itu dilahirkan oleh orang seperti itu padahal saya yang merindukan buah hati seperti dia sampai saat ini pun belum diberikan oleh ALLAH” tetapi kita lupa bahwa mungkin ALLAH melihat bahwa :
1. Kita masih belum mampu diberi tanggung jawab itu.
2. ALLAH ingin agar kita bisa lebih banyak beramal dengan cara mengasuh anak-anak yatim piatu atau fakir miskin yang banyak bertebaran di muka bumi ini.
3. ALLAH melindungi kita agar jangan sampai anak yang lahir itu menjadi mudharat bagi kita.
Jadi akan lebih baik jika kita berpikiran positif terhadap rencana ALLAH tersebut dengan cara :
1. berserah diri dan selalu berdo’a kepadaNYA 
2. peliharalah anak-anak yatim piatu atau fakir miskin dari pada mereka ini dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk kegiatan yang tidak benar.
 
Ingatlah selalu bahwa kebenaran dan keadilan yang sejati itu hanyalah milik ALLAH SWT jadi ikutilah apa yang sudah ALLAH rencanakan bagi kita karena insyaallah kebahagiaan akan selalu bersama kita.