11 September 2009

BUDAYA MENJELANG LEBARAN

Ma, belikan baju baru untuk lebaran.
Pak, meja kita sudah kelihatan jelek, beli khan yang baru lah untuk lebaran malu sama tetangga-tetangga.
Apa kue kita tuk lebaran nih, kalau sampai tidak ada kue malu kita sama tetangga yang datang bertamu ke rumah kita.
Hari apa kamu pulang mudik ke kampung.


Apa yang ada diatas itu adalah sebagian kata-kata yang selalu terucap saat hari-hari puasa Ramadhan sudah mendekati akhir. Sepertinya hal ini menjadi suatu budaya di banyak daerah di Indonesia ini dan selalu berulang di setiap tahun. Dan yang tak kalah repot adalah pemerintah karena pemerintah harus bersusah payah untuk mengatur kegiatan “mudik” tahunan rakyatnya tersebut.  
 
Tetapi jika dipikir dengan jernih mungkin timbul beberapa pertanyaan dalam hati kita :
1. Apakah keuntungan yang bisa diambil dari budaya ini.
2. Siapakah yang lebih diuntungkan dengan semua budaya yang kita lakukan untuk menyambut Iedul Fitri tersebut.
3. Apakah budaya ini “harus” selalu dilaksanakan.
Kalau kita melihat semua pertanyaan itu, maka sebenarnya yang sangat diuntungkan dengan budaya itu adalah para pengusaha (penjual baik jasa atau barang) sedangkan kita hanyalah obyek penderita yang menghambur-hamburkan uangnya untuk menambah pundi-pundi uang mereka. Tiada keuntungan yang bisa kita dapatkan dari apa yang kita lakukan itu tapi hanyalah kebahagiaan sesaat ketika seseorang memuji baju baru yang kita kenakan atau sanjungan tetangga ketika mereka datang kerumah kita. 

Memang budaya ini sulit untuk dirubah tetapi alangkah lebih baiknya jika budaya ini di”renovasi” sehingga ada manfaat bagi kita dan bukan hanya orang lain yang mendapatkan keuntungan sedangkan kita hanya merugi.
 
Sedikit contoh adalah kita tidak membiasakan anak-anak kita membeli baju baru untuk lebaran apalagi jika baju anak kita masih banyak dan layak pakai semua karena beli baju khan bukan harus disaat lebaran saja. Atau kita tidak perlu beli bermacam-macam kue untuk lebaran tetapi cukup sekedarnya saja karena tetangga datang kerumah kita khan bukan untuk melihat kue kita tapi untuk silaturahmi (kalau tetangga itu datang untuk melihat kue kita ya itu sih namanya tetangga kurang ajar ha.. ha.. ha.. ha..).
 
Alangkah lebih baik dan indahnya jika budaya menjelang lebaran itu tidak membuat kita repot baik finansial maupun non finansial sehingga kita bisa lebih berkonsentrasi untuk melaksanakan puasa Ramadhan yang penuh dengan berkah ini. 

No comments: