06 October 2009
SI KECILKU SEDANG SAKIT
Setelah kembali dari kota Pontianak tanggal 28 September 2009 dan mulai kembali bekerja mulailah rasa malas muncul karena lamanya cuti untuk berlebaran. Begitu sampai di kantor wah kerjaan sudah menunggu semua apalagi pada bulan-bulan Agustus-September ini harus mempersiapkan budget produksi untuk tahun 2010, tapi untungnya hal itu sudah saya persiapkan jauh-jauh hari sebelum cuti lebaran.
Kalau baru kembali dari cuti seperti ini rasanya waktu berjalan sangat lambat sekali sehingga timbul rasa bete (kata anak-anak ABG sih) padahal saya udah pengen pulang untuk main-main sama si kecil Arya ku yang tanggal 28 September ini tepat berusia 11 bulan.
Sepulang dari kantor, maka aku puaskanlah bermain-main dengan sikecil yang memang sedang lucu-lucunya apalagi sekarang dia sudah bisa merangkak dan belajar berdiri. Dan lucunya dia sekarang sudah mulai bisa memanggil aku “AYAH” walaupun yang muncul dari mulutnya baru “A” saja. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB mulailah si kecilku tidur dengan nyenyaknya karena sudah lelah bermain.
Seperti biasa si kecil ini kalau malam terbangun minta susu dan saat ini sekitar pukul 23.00 WIB karena sudah biasa dengan kebiasaan ini, maka aku segera membuatkan susu untuk dia tapi saat aku minumkan ternyata dia menolaknya serta menangis dan aku pun berpikir ada apa gerangan dengan si kecilku ini, maka untuk menghilangkan penasaranku aku pegang keningnya ternyata panas sekali dan setelah aku cek dengan termometer suhu badan dia 38,4 derajat Celcius akhirnya aku menggendongnya untuk mengurangi panas badannya dan membuat dia nyenyak tidur.
Setelah aku minumkan obat penurun panas, maka aku tidurkan kembali dia di tempat tidur tapi setelah kejadian itu aku pun tidak bisa tidur lagi dan setiap 2 jam sekali aku mulai cek suhu badan dia dengan termometer. Saat jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari si kecilku kembali terbangun dan suhu badannya kembali tinggi sekitar 39 derajat Celcius dan kembali aku minumkan obat penurun panas agar suhu badan dia kembali normal.
Karena suhu badan si kecil ini tidak turun-turun, maka aku putuskan segera membawanya ke dokter di sekitar tempat tinggalku. Dan dokter hanya memberi obat penurun panas saja karena penyakit lain diperkirakan dokter tidak ada. Tetapi ketika pukul 15.00 WIB si kecil kembali tinggi suhu badannya dan mencapai 39,7 derajat celcius, maka dengan hati yang tidak karuan aku putuskan untuk segera membawanya ke rumah sakit agar segera mendapat pertolongan yang memadai. Setelah tiba di rumah sakit, maka pihak rumah sakit (dokter jaga) meminta saya untuk melakukan pengecekkan darah sikecil di laboratorium rumah sakit karena pihak rumah sakit takut kalau-kalau si kecil terkena demam berdarah dengue atau malaria.
Tetapi setelah melihat hasil tes laboratorium yang hasilnya ternyata negatif semua baik demam berdarah dengue maupun malaria, maka sang dokter jaga pun bingung ada apa dengan si kecil ini karena saat dicek suhu badan si kecil mencapai 38,8 derajat Celcius dan dokter jaga pun merujuk untuk ke dokter spesialis anak besok pagi. Tapi karena hatiku sudah dag, dig, dug tidak karuan, maka aku putuskan untuk segera menemui dokter spesialis anak di tempat prakteknya walaupun hari sudah malam agar si kecil bisa segera dapat di diagnosa penyakitnya.
Begitu sampai di dokter spesialis anak, maka dokter meminta agar si kecil kembali dicek darahnya untuk lebih memastikan penyakitnya. Lagi-lagi semuanya negatif karena itu pak dokterpun memberikan obat yaitu penurun panas jika panasnya kurang dari 39 derajat Celcius dan penurun panas jika panasnya mencapai 39 derajat Celcius serta satu obat lagi yang aku lupa menanyakan kegunaannya. Sang dokter hanya memperkirakan bahwa sikecil terkena virus tetapi belum tahu itu virus apa karena itu dia mengharuskan saya untuk datang lagi jika 3 hari setelah ini si kecil masih panas tinggi untuk di cek kembali apakah si kecil terkena demam berdarah dengue.
Karena sampai hari kedua setelah ke dokter panas si kecil belum turun-turun, maka ada beberapa karyawan di tempat kerja isteri saya yang menyarankan untuk mencoba pengobatan tradisional (berobat kampung istilah di tempat tinggal saya). Akhirnya demi kesembuhan si kecil, maka aku dan isteri membawanya ke seseorang yang dianggap pandai untuk mengobati penyakit bayi (namanya pak Belalang) dan aku pun mendapatkan ramuan yang dibuat dari daun-daunan dan akar-akaran serta petunjuk untuk tetap memberi obat yang didapatkan dari dokter. Sesuai petunjuk bapak tadi, maka sesampai dirumah aku pun mulai mencampur ramuan itu dengan air hangat untuk segera di basuhkan keseluruh badan si kecil dan tak lupa memberi obat dari dokter.
Dan Alhamdullilah setelah beberapa jam suhu badan si kecil kembali normal tetapi pengobatan tradisional tetap harus terus dilanjutkan sampai suhu badan si kecil benar-benar menjadi normal kembali. Ternyata sakit si kecil itu adalah sakit bayi yang kalau disekitar tempat tinggal saya saat ini disebut grumut atau mungkin kalau dijawa gabaken dan setelah grumut si kecil sudah keluar semuanya, maka suhu badan dia pun mulai kembali normal seperti sediakala.
Yang tertinggal didalam pikiran saya saat ini adalah ternyata obat tradisional yang dibuat dari daun-daunan dan akar-akaran lebih manjur dibanding obat modern yang dibuat dari bahan-bahan kimia.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment