18 November 2009
CERITA SEORANG ANAK KECIL
Seorang anak kecil yang sedang menonton acara televisi tampak bengong, karena setiap hari hampir semua berita di televisi selalu berisi tentang perkelahian baik antar kelompok maupun antar desa.
Sehingga dalam benak anak kecil itu terpatri bahwa jika kita ingin tampil di televisi, maka cara terbaik adalah dengan berkelahi baik secara kelompok atau sendiri. Dan karena keinginannya agar bisa tampil di televisi, maka anak kecil itu setiap hari ketika pulang sekolah selalu berkelahi baik dengan teman sekelasnya ataupun orang lain.
Suatu saat datanglah surat dari sekolah sang anak untuk orang tua anak kecil itu agar sang orang tua menghadap ke sekolah. Sang orang tua pun bingung ada apa gerangan sebenarnya sehingga dia dipanggil untuk ke sekolah anaknya. Dalam benak orang tua itu muncul berbagai pertanyaan ada masalah apa dengan anaknya karena si anak adalah anak yang baik dan penurut serta tidak pernah melawan orangtuanya, dan untuk memastikannya dia pun bertekad untuk datang kesekolah anaknya itu.
Pada hari yang telah ditentukan, maka orang tua itu pun pergi ke sekolah dan menemui sang kepala sekolah. Dan ketika bertemu sang kepala sekolah, maka orang tua itu pun bertanya ada masalah apa dengan anaknya. Alangkah terkejutnya sang orang tua ketika mendengar penjelasan kepala sekolah tentang tingkah laku sang anak saat berada disekolah.
Dengan badan lunglai dan hati remuk redam sang orang tua pun pulang ke rumah sambil terus berpikir mengapa sang anak yang baik serta penurut itu menjadi liar ketika berada di sekolah. Saat sang anak telah pulang dari sekolah, maka orang tua itu pun memanggil anaknya dengan lemah lembut “anakku sayang bisakah orang tuamu ini berbicara dengan kamu”. Sang anak pun menjawab “boleh orang tuaku sayang” dan sang anak pun bertanya “apakah yang akan orang tuaku bicarakan dengan aku”.
Sang orang tua berpikir bagaimana caranya menanyakan pada anaknya tentang penjelasan kepala sekolah pagi ini. Dan akhirnya sang orang tua pun bertanya “ anakku sayang bagaimana pendapatmu tentang orang yang sering berkelahi ?” dan sang anak pun menjawab dengan polosnya “orang tuaku, orang yang sering berkelahi itu hebat karena kalau kita sering berkelahi, maka kita nanti bisa tampil di televisi seperti bintang film atau apa itu namanya orang tuaku yang ada briti-briti itu lho?”. Dan orang tua itupun menjawab “celebrity ???”, sang anak pun menjawab “benar orang tua ku celebrity”.
Orang tua pun bingung medengar jawaban polos sang anak karena ternyata dalam benak sang anak telah terisi suatu asumsi bahwa perkelahian adalah suatu hal yang lumrah dan dapat menjadikan dirinya bak seorang bintang film.
Apakah yang salah dari cerita diatas, seperti kita semua telah tahu setiap hari tiada hari tanpa berita tentang perkelahian baik antar kelompok maupun antar desa atau antar apa saja dan hal ini dilakukan oleh orang-orang yang buta huruf sampai mereka yang menamakan dirinya seorang mahasiswa. Dan lucu lagi semua stasiun televisi berlomba-lomba untuk memberitakan hal ini seakan-akan ini adalah suatu berita yang layak dan perlu untuk diberitakan padahal jika stasiun televisi itu mempunyai hati nurani dan manusiawi, maka berita seperti itu tidaklah layak untuk diberitakan apalagi jam tayang sebuah berita adalah di jam-jam utama dimana anak-anak pun bisa menontonnya.
Ada pikiran nakal dalam benak saya yang mengatakan bahwa perkelahian yang sering terjadi di tanah air ini karena mereka merasa bahwa dengan perkelahian itu, maka mereka bisa tampil di televisi seperti pikiran anak kecil di cerita diatas. Dan mungkin jika televisi-televisi di tanah air ini tidak memberitakan atau tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu, maka kemungkinan perkelahian-perkelahian itu bisa berkurang karena mereka tidak mempunyai wadah untuk menampilkan ketrampilan dan kehebatan mereka dalam berkelahi berkelompok.
Marilah kita bangun negeri ini dengan kasih sayang dan saling menghargai setiap pendapat orang lain walaupun berbeda sehingga negeri ini menjadi negeri yang aman, sentosa, adil dan makmur sejahtera bagi rakyatnya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
Dibelakang rumahku hidup keluarga dengan 2 orang anak laki2 kecil. Bapak dan Ibuknya hanya naroh pesawat TV 14 inci di atas bupet. Mereka tidak pernah sekalipun mutar TV. Walau nonton TV bukan haram, tapi mereka menghapus nonton TV dari kehidupan mereka. Subhannallah...
Post a Comment