Saat aku mendengar nama “Syekh
Siti DJenar”, maka aku teringat akan pelajaran agama dan sejarah saat aku masih
sekolah dulu. Disaat itu kita selalu
mendengar bahwa sebenarnya “Syekh Siti Djenar” adalah seorang yang “syirik”
karena mengaku bahwa dirinya adalah ALLAH.
Tetapi di hati kecil ini saya
merasa bahwa sebenarnya Syekh Siti Djenar bukanlah seorang yang seperti
diajarkan dalam pelajaran-pelajaran tersebut.
Karena rasa penasaran itulah, maka saya selalu tertarik untuk membaca
tentang sejarah atau ajaran-ajaran yang berhubungan dengan “Syekh Siti Djenar”
tersebut. Dan jika sudah ke toko buku
tiada yang lain yang pertama aku cari pasti buku yang menulis tentang Tokoh
“Syekh Siti Djenar” tersebut.
Walaupun belum banyak buku yang
aku baca tentang tokoh ini tetapi aku sudah bisa sedikit mengambil kesimpulan
yaitu bahwa sebenarnya Syekh Siti Djenar adalah seorang yang sangat tinggi ilmu
keagamaannya dan juga “Dia” adalah seorang “Sufi” semua itu terlepas dari
kontroversi yang selama ini dimunculkan ke permukaan yaitu Syekh Siti Djenar
mengaku sebagai ALLAH.
Jika dilihat dari ajaran-ajaran
yang dia sampaikan, maka tidak ada ajaran yang seperti di sampaikan selama ini
tetapi yang ada adalah ketidak inginan dari seorang Syekh Siti Djenar tentang ulama
yang menjadi bagian dari suatu pemerintahan.
Hal ini karena jika seorang ulama menjadi bagian dari pemerintahan, maka
fatwa atau ajaran yang disampaikannya menjadi tidak lagi murni tetapi sudah
bercampur dengan kepentingan dunia (pemerintahan).
Dan pertentangan inilah yang menjadikan
Syekh Siti Djenar menjadi terkucilkan dari lingkungan “Dewan Ulama (Wali Songo)”. Yang
membuat Syekh Siti Djenar tersudut dalam tuduhan “syirik” adalah karena
murid-muridnya yang tidak dapat menyelami secara benar ajaran Syekh Siti Djenar
tersebut sehingga merekalah yang mendengungkan bahwa Syekh Siti Djenar mengaku
sebagai ALLAH.
Tetapi
sejarah tetaplah sejarah sehingga apa yang aku tuliskan ini biarlah menjadi
sebuah tulisan untuk mengobati keingintahuan ku tentang seorang sufi bernama “Syekh
Siti Djenar”. Dan kebenaran abadi hanya
muncul di kehidupan nanti tetapi kebenaran semu selalu tampak di kehidupan saat
ini. 
