Saat ini Ibu Pertiwi sudah berusia 64 tahun, diusianya yang semakin mendekati senja ini dimana sang anak sudah dianggapnya semakin dewasa ternyata kedewasaan itu hanya pada lahiriahnya saja tanpa diikuti oleh kedewasaan dalam berpikir dan berbicara.
Ketika Ibu Pertiwi santai diruang keluarga dan matanya menyaksikan berita di televisi semakin sedih hatinya, karena sudah sedemikian kacaunya cara berpikir sang anak. Saling mencaci dan memaki, saling menyalahkan tanpa mau disalahkan, merasa dirinya yang paling hebat tanpa ada introspeksi kedalam dirinya menjadi tontonan sehari-hari di rumah ini.
Untuk menghilangkan kesedihan hatinya karena tontonan itu sang Ibu keluar berjalan-jalan untuk menghirup udara segar disekitar halaman rumahnya. Tapi begitu keluar dari pintu sebuah mobil mewah hampir menabraknya, ingin sekali sang Ibu marah pada pengemudi mobil itu tapi begitu kaca mobil terbuka ternyata sang anaklah didalam mobil itu.
“Anakku mobil siapakah ini ??” tanya sang Ibu.
“Ini mobil saya Ibu” jawab sang anak.
“Darimana kau dapatkan uang untuk membelinya ??” tanya sang Ibu.
“Aku khan orang yang ditugaskan sebagai pejabat dirumah ini, jadi wajar kalau aku harus bermobil mewah” jawab sang anak.
“Darimana kau dapatkan uang untuk membelinya ??” tanya sang Ibu lagi.
“Aku mengambil uang keluarga yang dikumpulkan untuk membangun rumah ini, tapi itu khan wajar karena aku adalah pejabat di rumah ini” jawab sang anak.
“Nak, ingatlah kamu ditugasi oleh keluarga ini bukan untuk bermewah-mewah tapi untuk membangun rumah ini agar keluarga kita menjadi keluarga yang makmur” jawab sang Ibu yang tanpa terasa menetes air matanya.
“Baiklah Ibu saya akan menjalankan tugas ini dengan lebih bertanggung jawab dan tidak akan bermewah-mewah apalagi banyak keluarga kita yang masih dibawah kemiskinan” janji sang anak.
Setelah kejadian itu sang Ibu kembali berjalan dengan santainya tetapi ditengah jalan itu sang Ibu menyaksikan sang anak yang lain sedang menghancurkan prasarana halaman rumahnya sambil berteriak-teriak memaki-maki sang anak yang menjadi pejabat.
“Nak, mengapa kau berteriak dan memaki seperti itu ??” tanya sang Ibu.
“Ibu, saudaraku yang pejabat itu telah mengutil uang keluarga kita !!” jawab sang anak.
“O, itu masalahnya, tapi mengapa kau hancurkan prasarana yang ada di halaman ini ??” tanya sang Ibu.
“Itu untuk menumpahkan kekesalanku pada dia !!” jawab sang anak.
“Nak, apakah itu yang kamu dapatkan di tempat kuliahmu, apakah itu cara untuk menyampaikan pendapat ??” sang Ibu kembali bertanya.
“Eh… eh…. eeh….” si anak kebingungan untuk menjawab.
“Apa yang telah kau hancurkan itu dibangun dengan tabungan keluarga kita nak, kalau kamu hancurkan itu berarti perlu uang lagi untuk membangunnya, mau kah keluarga-keluarga yang lain menambah iuran untuk tabungan keluarga kita, kamu belum ada sedikitpun memberikan iuran untuk tabungan itu, tugasmu saat ini adalah belajar yang pandai hingga suatu saat nanti kamu akan memimpin keluarga ini dengan adil dan bisa mensejahterakan keluarga kita” ucap sang Ibu dengan meneteskan air mata.
“Maafkan saya Ibu, saya akan lebih tekun belajar agar bisa membawa keluarga ini menjadi keluarga yang sejahtera” janji sang anak.
Saat sang Ibu berjalan kebagian lain halaman rumahnya, maka dia melihat ada seorang anaknya sedang diwawancarai oleh seorang wartawan. Sang Ibu mendengarkan dengan seksama tanya jawab itu, dan setelah wawancara itu selesai, mulai bertanyalah Ibu ini kepada anaknya.
“Anakku mengapa kamu menjelek-jelekkan saudaramu yang pejabat di keluarga ini, kamu khan merupakan bagian dari keluarga ini ??” tanya sang Ibu.
“Kalau tidak begitu dia tidak tahu kesalahannya” ucap sang anak.
“Apakah itu cara yang terbaik untuk mengoreksi pekerjaan keluargamu yang lain ??, apa tidak ada cara yang lebih baik daripada mencaci, memaki, membongkar kejelekan orang lain ??” ucap sang Ibu.
“Ya...., ada bu” sang anak menjawab.
“Kamupun belum tentu lebih baik dari dia jika kamu diberi tugas sebagai pejabat seperti itu, jadi janganlah kamu menjelek-jelekkan orang lain apalagi dia adalah saudaramu sendiri, sebaiknya kamu berbicara, memberi saran serta solusi suatu masalah secara sopan dan bijaksana” nasehat sang Ibu yang tanpa sadar kembali meneteskan air matanya.
“Baik, Ibu” sang anak kembali menjawab.
Karena lelahnya sang Ibu berjalan dan melihat beberapa kejadian dijalan itu, maka sang Ibu kembali ke rumah dengan hati trenyuh dan tanpa dia sadari terucap dari mulutnya "Mengapa anak-anakku sekarang seperti tidak mempunyai sopan santun lagi". Ketika sampai dirumah dia pun terduduk dan tersandar di kursi renyotnya dan berdo'a kepada sang ILLAHI "Ya, ALLAH tolonglah keluargaku ini sadarkanlah anak-anakku, aku bangun rumah ini dengan susah payah ya ALLAH agar ada kesejahteraan dan kedamaian serta kemakmuran di rumah ini bukan caci-maki, korupsi, dan mau menang sendiri, berikanlah rahmat dan berkahMU ya ALLAH untuk keluargaku ini" Dan akhirnya sang Ibu pun tertidur dengan membawa banyak pikiran dan kegundahan di dalam hatinya.